google-site-verification: googlea9a7bb945be0257d.html Jagad-enjang: Penyebab dan Gejala Kanker Nasofaring

Tuesday, March 12, 2013

Penyebab dan Gejala Kanker Nasofaring

Apa saja penyebab dan gejala Kanker Nasofaring? Penyebab kanker nasofaring sebagai penyebab yang paling banyak terjadi adalah infeksi virus Epstein Barr. Meski tak bisa dipastikan dan bisa disebabkan oleh banyak faktor, penyebab dan gejala Kanker Nasofaring harus diperhatikan secara serius dan penanganan lebih dini akan lebih baik. Kanker nasofaring merupakan penyakit kanker no. 4 terbanyak dialami saat ini.

Kalau kita membaca dari banyak referensi dan media, banyak teori yang menyebutkan bahwa Kanker nasofaring bisa disebabkan oleh virus Epstein-Bar (VEB), faktor genetik, faktor diet, lingkungan dan juga karena rokok. Lalu apa sebenarnya Kanker nasofaring? Kanker nasofaring adalah satu jenis kanker yang berasal dari sel epitel nasofaring di bagian rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut.

Jika kita lihat, Kanker nasofaring merupakan kanker no. 4 terbanyak setelah kanker leher rahim, kanker payudara, dan kanker kulit, maka tentu ini menjadi masalah serius bagi dunia medis, sehingga termasuk kanker dengan tingkat keganasan yang tinggi dan berbahaya bagi kita.

Gejala-gejala Kanker Nasofaring stadium awal ternyata sangat sulit dibedakan dengan penyakit yang lain. Diagnosis awal Kanker Nasofaring sangat sulit dilakukan karena gejala-gejala yang timbul sering baru bisa dirasakan setelah mencapai stadium akhir dan inilah yang menjadi masalah, dimana kita tidak bisa mengenali sejak awal.

Dari data yang ada, di Indonesia sekitar 60 persen Kanker Nasofaring terjadi pada bagian leher dan kepala. Kanker sulit untuk di deteksi karena terletak, tersembunyi di belakang tabir langit-langit, di bagian dasar tengkorak.

Kita bisa membaca data yang muncul di media saat ini. Peneliti menjelaskan sebagai berikut: kemampuan untuk bertahan hidup dalam 5 tahun bisa dilihat dengan prosentase seperti ini: pada stadium I sekitar 76 %, stadium II sekitar 50 %, stadium III sekitar 38 % dan stadium IV atau lanjut sekitar 16,4%.

Dari keterangan diatas bisa disimpulkan bahwa, penyebab, gejala dan bahaya Kanker Nasofaring memang sangat serius dan masih jauh dari harapan untuk bisa mengenali lebih awal. Pola hidup sehat menjadi cara paling ampuh untuk mencegah Kanker Nasofaring.

Penyebab dan risiko muncul kanker nasofaring:

- Secara mayoritas penyebab kanker nasofaring adalah infeksi virus Epstein Barr. Penyebab kanker nasofaring yang lain juga dipengaruhi oleh letak geografis, faktor lingkungan, bahan kimia, bahan pengawet, asap, juga oleh bumbu masak. Kanker nasofaring ternyata juga lebih banyak diderita atau dialami oleh kaum laki-laki dibanding perempuan. Ada juga dijelaskan bahwa pemicu penyebab kanker nasofaring juga dipengaruhi oleh kondisi geografis yang terlalu panas, air dengan kadar nikel yang tinggi, dan juga pengawet makanan yang mengandung nitrosamine.

- Orang yang mengonsumsi makanan yang menggunakan bahan pengawet, baik itu cara diasinkan atau diasapkan akan mempunyai risiko muncul kanker nasofaring lebih tinggi.

- Risiko munculnya kanker nasofaring juga bisa disebabkan oleh makanan yang panas dan bersifat mengganggu selaput lendir, seperti alkohol, gangguan asap (asap rokok/candu, asap minyak tanah, asap kayu bakar, asap obat nyamuk, polusi asap di lingkungan kita dll).

Kanker nasofaring sangat berbahaya dan mudah menyebar. Dia bisa tumbuh di rongga belakang hidung, di belakang langit-langit rongga mulut, dan menyebar ke mata, telinga, kelenjar leher, dan otak. Kanker ini akan menyerang hingga ke hidung, telinga, dan lubang di dasar tengkorak dan bisa merusak fungsi organ disekitarnya, seperti saraf yang mengatur gerak bola mata, kelopak mata, lidah dll.

Kanker nasofaring dimulai dengan masa infeksi primer virus Epstein Barr yang muncul pada tahun-tahun pertama, nyaris tanpa gejala, bahkan dalam kondisi fisik yang lebih baik, infeksi baru akan muncul saat seseorang mencapai usia muda atau dewasa. Bisa saja terjadi, seseorang telah terinfeksi virus seumur hidup tanpa menimbulkan gejala yang muncul, dan gejala kanker nasofaring bisa muncul saat ada faktor-faktor yang memengaruhinya.

Gejala umum kanker nasofaring stadium awal memang tidak terlihat. Letaknya yang tersembunyi di belakang rongga hidung atau di belakang atas langit-langit rongga mulut sangat sulit terdeteksi dan baru diketahui setelah stadium lanjut. Gejala dini yang sering muncul: Telinga sering berdengung serta ada rasa penuh pada satu sisi telingga seperti ada yang mengganjal dan tidak sakit. Pendengaran berkurang. Sering mimisan berulang dan hanya sedikit-sedikit. Ingus bercampur darah Hidung tersumbat terus-menerus Pilek di satu sisi/bagian.

Gejala di stadium lanjut:

Membesarnya Kelenjar getah bening leher. Gangguan mata seperti: juling, penglihatan ganda, kelopak mata yang terkena jadi menutup, nyeri dan sakit kepala.

Gejala klinis karsinoma nasofaring dapat dibagi menjadi 4 kelompok yaitu, Gejala nasofaring, gejala ini dapat berupa perdarahan melalui hidung yang ringan hingga berat, atau sumbatan pada hidung Gejala Telinga, ini merupakan gejala dini yang timbul karena asal tumor dekat sekali dengan muara tuba eustachius, sehingga pembesaran sedikit pada tumor akan menyebabkan tersumbatnya saluran ini dan menimbulkan gejala pada telinga seperti, telinga nyeri, telinga berdenging, rasa tidak nyaman.

Gejala Mata, pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan gangguan pada saraf-saraf di otak salah satunya adalah keluhan pada mata berupa pandangan ganda. Gejala di leher, Metastasis, gejala ini dapat dilihat pada beberapa stadium akhir kanker nasofaring berupa pembesaran atau benjolan di leher.

Untuk pemeriksaan tambahan, sejak ditemukan CT-scan sangat membantu dalam diagnosis tumor-tumor di daerah kepala dan leher sehingga tumor primer yang terletak di belakang dan tersembunyi dapat ditemukan. Pemeriksaan lain seperti serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA di Indonesia telah menunjukan kemajuan dalam medeteksi karsinoma.

Untuk diagnosis pasti Karsinoma Nasofaring ditegakan dengan melakukan biopsy nasofaring. Biopsi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari hidung dan dari mulut. 3 bentuk tersering dari karsinoma nasofaring adalah karsinoma sel squamosa, karsinoma tidak berkeratinisasi dan karsinoma tidak berdiferensiasi.

Pengobatan kanker nasofaring Terapi kanker nasofaring terutama meliputi radioterapi, operasi dan kemoterapi. Radioterapi merupakan terapi paling efektif, setiap pasien yang pada waktu diagnosis belum menunjukkan metastasis multipel harus terlebih dulu menerima radioterapi, atau radioterapi plus kemoterapi. Bila lesi relative terbatas, tanpa penyebaran ke klavikula ke bawah, metastasis ke kelenjar limfe servikal kurang dari 8cm, dapat dilakukan radioterapi radikal, bila terdapat satu metastasis jauh atau kelenjar limfe servikal lebih besar dari 8cm dapat dilakukan radioterapi paliatif.

Karena umumnya kanker nasofaring adalah karsinoma sel skuamosa diferensiasi buruk atau tidak berdiferensiasi, derajat keganasan tinggi, cepat pertumbuhannya, maka sering kali lebih peka terhadap kemoterapi dibandingkan karsinoma sefaloservikal lain. Dengan kemoterapi obat tunggal angka remisi sekitar 30%, dengan kemoterapi kombinasi dapat mencapai 66%. Regimen kemoterapi kombinasi yang sering digunakan adalah PF, yaitu cisplatin ditambah fluorourasil, 21-28 hari sebagai satu kuur. Ditambah kalsium folinat untuk meningkatkan efek terapi.

Operasi bukan pilihan pertama pada karsinoma nasofaring, umumnya hanya digunakan terhadap lesi yang tersisa pasca kemoterapi atau radioterapi. Masalah dalam terapi karsinoma nasofaring sekarang ini adalah: efektivitas jangka pendek baik, efektivitas jangka panjang tidak ideal. Bagaimana meningkatkan efektivitas? Bila setelah terapi konvensional gagal, bagaimana terapinya? Tindakan yang dapat dilakukan bisa di klik disini.

Tips Mencegah kanker nasofaring
1. Ciptakan lingkungan hidup dan kerja yang sehat
2. Kurangi makanan yang diawetkan atau menggunakan zat pengawet.
3. Hindari polusi udara,zat-zat dari gas kimia, asap industri, dan sebagainya.
4. Ubahlah gaya hidup Anda dengan gaya hidup sehat, berpikir positif, cukup istirahat, berolahraga secara teratur.

Kanker nasofaring biasanya diobati dengan radioterapi. Ada dua jenis radioterapi. Radioterapi eksternal menggunakan mesin di luar tubuh. Radioterapi internal menggunakan zat radioaktif yang terbungkus dalam jarum, biji, kawat, ataupun kateter yang ditempatkan langsung di dalam organ yang terkena kanker. Jenis radioterapi yang digunakan bergantung pada jenis dan stadium kanker nasofaringnya. Intensity-modulated radiation therapy (IMRT) adalah radioterapi 3 Dimensi yang pengoperasiannya menggunakan komputer canggih.

Berbeda dengan radioterapi biasa, penggunaan IMRT dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, karena tidak terlalu menyebabkan xerostomia (mulut kering) pasca pengobatan. Radioterapi eksternal terhadap kelenjar tiroid (pituitary) dapat mengubah cara mereka bekerja. Dokter mungkin akan melakukan tes kelenjar tiroid sebelum dan sesudah terapi untuk memastikan mereka berfungsi baik. Sebelum radioterapi, pasien juga disarankan untuk memeriksa kesehatan gigi dan gusinya serta menuntaskan perbaikan gigi/gusi sebelum radioterapi dilakukan.

Kesehatan gigi dan gusi amat penting dijaga untuk mencegah rasa sakit yang tidak perlu, yang muncul pasca radioterapi. Pada kasus kanker nasofaring yang tidak berespons terhadap radioterapi, operasi pembedahan dapat dilakukan. Dokter mungkin merasa perlu untuk mengangkat kelenjar getah bening serta jaringan lain di leher yang terkena tumor. Kemoterapi biasanya dilakukan bila kanker nasofaring sudah bermetastase ke organ lain. Sekian informasi seputar penyebab dan gejala-gejala Kanker Nasofaring.

1 comment:

  1. Terima kasih mas informasinya sudah berbagi melalui blog ini , oya untuk referensi mungkin bisa juga kunjungi website ini http://www.tanyadok.com/kesehatan/kanker-nasofaring-kenali-hindari-dan-obati

    ReplyDelete